Dibentangnya langit biru nan menawan
Pada tetes air yang menjatuhi pipiku
Aku menghela nafas
Aku menghentakkan kaki ditanah
Pada gemuruhnya dimensi ruanganku
Aku terjatuh,aku sakit
Resah dan gelisah
Pada buruk rupanya siasatku
Aku bersenandung pada langit malam
Lukaku diusap sang bulan
menepi pada tembang syairku
Aku memeluk waktu yang merangkak meninggalkan luka
Namun tak secepat terjangan angin
Hanya seperti keong yang berjalan menembus dermaga
Aku lelah memuja harap
Aku lelah menghitung derita yang bernyawa
Pada yang kerap menorehkan luka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar