Sabtu, 14 Desember 2019

Dijalan Hidup

Aku selalu merenungi kehidupanku
Aku adalah seorang pecundang bumi manusia ini
Mungkin lebih dari itu
Aku seorang anarki penghisap kretek
Penikmat kopi dan pecandu ketinggian
Aku adalah saksi dari kebisuan dunia 
Dalam fana diluar kenyataan yang ada
Hidup tak sepenuhnya adil dan tak sepenuhnya andil
Menjadi seorang diri terjebak dalam kedewasaan 
Ternyata tak seindah yang terfikirkan dimasa kecil
Penuh kejutan yang sama sekali tak aku inginkan
Tekanan demi tekanan
Banyak masalah didalam kendala
Berakhir tapi tak jua berakhir
Argumentasi demi argumentasi didalam benak fikiranku 
Tak lagi layak untuk dimanifestasikan
Dalam bentuk apapun

Janji Jiwa

Didalam sanubariku terletak rasa
Rasa yang terbawa arus luka
Luka yang dulu lahir dengan pujangga
yang mendambakan arah pulang terbaik
Seperti pemburu hutan yang memorak marik hutan belantara
Lalu kau bidik hewan tepat sasaran
Lukanya parah hingga bermerah darah
Kau ambil daging itu lalu kau tinggalkan sisa merahnya ditanah
Kau seperti penebang pohon terlarang
Membakar akar hingga habis sisa jangkar
apakah kau tau aku semarah ini?
Karena ada sesuatu yang kau tinggalkan
Ada sesuatu yang kau curi dariku
Aku telah berjanji pada jiwa
kembali padanya aku terbelenggu
entah sampai kapan aku bisa menemukan jalan
jalan pulangku pada jiwa ini
aku telah jatuh pada rindu
kembalikan aku !
kembalikan aku !
kembalikan aku !
aku enyah, aku muak
janji jiwa

Rabu, 11 Desember 2019

Dunia Baru

embun pagi meneteskan airnya
sejuk udara pagi menyelimutiku
kicauan kenari menemani aroma keheninganku
bunga mawar bermekaran sepanjang jalan rumah
ingin ku beradu pada raga ini
tentang nikmatnya dunia dengan keheningan
dunia tanpa beban dan kegelisahan

Kusesap secangkir kafein dan kuhisap sebatang kretek
kurenungkan dan ingin memberontak
ingin ku beradu pada Tuhan
tentang bagaimana jalanku
jalan hidup dan jalan pulangku
membawa sebongkah dosa untuk jaminan
dosa yang tentu menjadi tiket
tiket yang belum tentu siap kujalankan

Gelisahku tentang dunia fana tiada henti
tak terfikirkan tentang dunia nyata sebenarnya
hanya saja mengikuti skenario Tuhan
kupercaya Tuhan adalah adil
membawa kebahagiaan untukku kelak
......

~irul_codot~

Sabtu, 07 Desember 2019

Aku dan Bayangmu

Mengaduk kopi,mengadu sepi
Berkisah lagi tentang patah hati
Semoga pelukanmu kelak akan melengkapi
Dan malam akan semakin menampakkan gelapnya
Bintang selalu menemaninya
Imajinasi liarku makin menjadi
Karena secangkir kopiku telah tersaji

Malam adalah ladang pembantaian abadi
Jiwa-jiwa tandus yang digerus sepi
Yang tak menyisakan apapun selain puisi
Dan bulan adalah cahaya redup
Pada spekulasi hati yang tak menyisakan apapun selain orasi


~irul_codot~

Aku dan Kau Keniscayaan

Adalah engkau duhai sang pemantik kenangan
Adakah yang lebih syahdu dari syair-syair cinta yang terpancar dari nyanyian kesetiaan?
Dinetramu yang abu-abu dihalus lembutnya pancaranmu
Aku tenggelam,hingga lupa caraku tuk berpulang

Biarlah kita berjarak,hingga semuanya pasti
Dan kita menjadi keniscayaan


~irul_codot~

Hati Yang Tersayat

Engkau tidak akan pernah tahu 
ada bunga yang bersemi didadaku
engkau tidak akan pernah tahu
bunga didadaku menimbulkan rindu dendam
engkau tidak akan pernah tahu
rindu dendam itupun menyublim menjadi doa
engkau tidak akan pernah tahu 
dalam doa itupun tersemat sebuah nama
engkau tidak akan pernah tau
nama yang kusebut tak akan pernah terlupakan
engkau tidak akan pernah tau 
terlupakan adalah pilihan terakhirku
jika aku tidak lagi mampu
merawat bunga ini dan terlanjur aku merusaknya



~irul_codot~

Kisah Sendu Tertimpa Rindu

Diawal bulan agustus ini
Teringat pertemuanku dengan seorang wanita
Mengingatkanku dengan kenangan manis yang kubuat dengannya
Kurasakan dinding tinggi itu amat sulit kugapai
Dan takkan bisa kubertahan untuk mencapai itu semua
Tak dapat kugapai mahligai cintaku
Hanya bertahan dalam dilema
Kurasakan betapa perihnya luka asmara ini
Rindu ini telah meratapiku
Cinta ini telah menghabisiku
Dan janji manis ini telah menghianatiku
Denganmu,patah hati adalah sarapanku setiap pagi
Sembari ditemani kopi yang kuseduh dengan air mataku sendiri


~irul_codot~

Salah Singgah

Beberapa waktu berlalu
tapi waktu belum telah usai terlalui
ada mata yang mendatangiku
sesosok wanita hadir disetiap langkahku
yang beberapa waktu selalu menemaniku
entah mengapa kehadirannya membuatku lengah
lengah terhadap sesuatu
disisi lain aku memiliki yang lain
dan bukan dengannya dan bukan untuknya
aku berdosa ya Tuhan.

aku melihat bara dimimpiku
menyala-nyala dan panas sangat
seolah diriku semak belukar terbakar
bibirku bergetar kala berbicara
kata-kata keluar dengan terbata-bata
aku tak kuat untuk berkata
kubiarkan mataku yang berbicara
bahkan suatu saat engkau akan memakiku
kau maki aku menjadi lelaki bangsat
menjadi tega untuk berhianat
dikala waktu itu indah untuk bercinta
tapi bagiku tidak!
kubiarkan bunga cinta itu gugur

kusampaikan kata maaf
bahkan berjuta maaf
sebanyak daun yang jatuh berguguran
tapi dikau masih berlagak acuh
engkau memaafkanku tapi kau tidak melepaskanku
harus kuakui,maafkan aku
kuharus melakukan tega
tega yang seharusnya engkau bersamanya
dan bukan bersamaku
ada yang ingin bersamamu,menunggumu
dan itu bukan diriku

akupun begitu berbalik
ada yang menungguku,setia kepadaku
yang pernah dulu kami berjanji
ikrar akan masa depan bersama
aku takut,sangat takut
bila ada yang merusak
meskipun diriku telah rusak
setidaknya diriku sedikit demi sedikit kuperbaiki
kuperbaiki segala kerusakanku
aku takut Tuhan
aku rindu Tuhan
Dialah segalaku untuk bersamanya
Dialah Kekasihku sebenarnya
Maafkan aku.......

Pilihan untuk memilih

Disudut pandang kota Diujung gelapnya cahaya Aku menatapmu dengan mahligaiku Helaan nafasku seakan tertimbun tanah Sepotong bayangmu memper...