Sabtu, 14 Maret 2020

Pilihan untuk memilih

Disudut pandang kota
Diujung gelapnya cahaya
Aku menatapmu dengan mahligaiku
Helaan nafasku seakan tertimbun tanah
Sepotong bayangmu memperkosa jiwa dan anganku
ingin kulantangkan suara untukmu
Namun hatimu mencekam jiwaku
sekawanan kata mundur adalah pilihan terbaikku

Rabu, 08 Januari 2020

Jiwa Yang Tandus

Rasa?
Mungkin banyak bintang yang berjatuhan
Bahkan mungkin berkelip rendah pada daratan
Menghiasi langit-langit dibola matamu
Bintang yang pasti menyinari terang
Dengan indahnya bagai senyum manismu

Cinta?
Oh tidak,aku tak kuat seperti yang lain
Pernah tertutup kabut hingga redup
Tercaci maki oleh hujan yang menghujam
menunggumu seperti senja yang tak ada balasan
Dan atau bahkan tersambar petir hingga rasa ini menjadi getir

Begitu asik kudengar suara darimu
tetapi tidak hatimu
Bagai matahari yang tak lagi terik
Biasmu pun mampu membuat relung hati ini terusik

Terkikis Luka



Pada luasnya samudera
Dibentangnya langit biru nan menawan
Pada tetes air yang menjatuhi pipiku
Aku menghela nafas
Aku menghentakkan kaki ditanah
Pada gemuruhnya dimensi ruanganku
Aku terjatuh,aku sakit
Resah dan gelisah
Pada buruk rupanya siasatku

Aku bersenandung pada langit malam
Lukaku diusap sang bulan
menepi pada tembang syairku
Aku memeluk waktu yang merangkak meninggalkan luka
Namun tak secepat terjangan angin
Hanya seperti keong yang berjalan menembus dermaga
Aku lelah memuja harap
Aku lelah menghitung derita yang bernyawa
Pada yang kerap menorehkan luka

Sabtu, 14 Desember 2019

Dijalan Hidup

Aku selalu merenungi kehidupanku
Aku adalah seorang pecundang bumi manusia ini
Mungkin lebih dari itu
Aku seorang anarki penghisap kretek
Penikmat kopi dan pecandu ketinggian
Aku adalah saksi dari kebisuan dunia 
Dalam fana diluar kenyataan yang ada
Hidup tak sepenuhnya adil dan tak sepenuhnya andil
Menjadi seorang diri terjebak dalam kedewasaan 
Ternyata tak seindah yang terfikirkan dimasa kecil
Penuh kejutan yang sama sekali tak aku inginkan
Tekanan demi tekanan
Banyak masalah didalam kendala
Berakhir tapi tak jua berakhir
Argumentasi demi argumentasi didalam benak fikiranku 
Tak lagi layak untuk dimanifestasikan
Dalam bentuk apapun

Janji Jiwa

Didalam sanubariku terletak rasa
Rasa yang terbawa arus luka
Luka yang dulu lahir dengan pujangga
yang mendambakan arah pulang terbaik
Seperti pemburu hutan yang memorak marik hutan belantara
Lalu kau bidik hewan tepat sasaran
Lukanya parah hingga bermerah darah
Kau ambil daging itu lalu kau tinggalkan sisa merahnya ditanah
Kau seperti penebang pohon terlarang
Membakar akar hingga habis sisa jangkar
apakah kau tau aku semarah ini?
Karena ada sesuatu yang kau tinggalkan
Ada sesuatu yang kau curi dariku
Aku telah berjanji pada jiwa
kembali padanya aku terbelenggu
entah sampai kapan aku bisa menemukan jalan
jalan pulangku pada jiwa ini
aku telah jatuh pada rindu
kembalikan aku !
kembalikan aku !
kembalikan aku !
aku enyah, aku muak
janji jiwa

Rabu, 11 Desember 2019

Dunia Baru

embun pagi meneteskan airnya
sejuk udara pagi menyelimutiku
kicauan kenari menemani aroma keheninganku
bunga mawar bermekaran sepanjang jalan rumah
ingin ku beradu pada raga ini
tentang nikmatnya dunia dengan keheningan
dunia tanpa beban dan kegelisahan

Kusesap secangkir kafein dan kuhisap sebatang kretek
kurenungkan dan ingin memberontak
ingin ku beradu pada Tuhan
tentang bagaimana jalanku
jalan hidup dan jalan pulangku
membawa sebongkah dosa untuk jaminan
dosa yang tentu menjadi tiket
tiket yang belum tentu siap kujalankan

Gelisahku tentang dunia fana tiada henti
tak terfikirkan tentang dunia nyata sebenarnya
hanya saja mengikuti skenario Tuhan
kupercaya Tuhan adalah adil
membawa kebahagiaan untukku kelak
......

~irul_codot~

Sabtu, 07 Desember 2019

Aku dan Bayangmu

Mengaduk kopi,mengadu sepi
Berkisah lagi tentang patah hati
Semoga pelukanmu kelak akan melengkapi
Dan malam akan semakin menampakkan gelapnya
Bintang selalu menemaninya
Imajinasi liarku makin menjadi
Karena secangkir kopiku telah tersaji

Malam adalah ladang pembantaian abadi
Jiwa-jiwa tandus yang digerus sepi
Yang tak menyisakan apapun selain puisi
Dan bulan adalah cahaya redup
Pada spekulasi hati yang tak menyisakan apapun selain orasi


~irul_codot~

Pilihan untuk memilih

Disudut pandang kota Diujung gelapnya cahaya Aku menatapmu dengan mahligaiku Helaan nafasku seakan tertimbun tanah Sepotong bayangmu memper...